My Ping in TotalPing.com

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ٬ اسَّلآمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

AHLAN WA SAHLAN

Selamat berkunjung; Selamat mengikuti dakwah guna meningkatkan aqidah dan syariah sebagai penambah bekal Pulang ke Kampung Akhirat. Mulai diluncurkan 18 Pebruari 2011, Insya Allah, diposting sampai menjelang akhir hayat.

وَسَّلَا مُ عَلَيكُمْ وَرَهْمَةُ اللهِ وَبَرَ كَا تُهُ

Salam Hormatku dan Keluarga

situs aqidah syariah ini : http://aslam3.blogspot.com klik situs fiqh sunah : http://aslam5.blogspot.com

Sunday, 27 February 2011

004. SEBUTAN NYA

Dia, adalah Allah س, sering menyebut dirinya dengan sebutan Kami, tetapi bukan untuk merendahkan diri Nya

Angin semilir malam berhembus perlahan, membawa dingin yang seolah menusuk rusuk para taklim; setelah membetulkan silanya, Bahjedun membuka tausiah diring dengan salam; dari taklim terdengar lirih jawaban salam, hampir serentak. Kemudian Bahjedun mengemukakan, “Pada tausiah yang lalu ditanyakan mengenai penyebutan Allah س dengan sebutan Kami”; berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Memang betul dalam firman Nya, beberapa kali Allah س membahasakan dengan sebutan Kami atau dalam Bahasa Al Quran adalah nahnu; jika diletakkan pada awal kata menjadi na yang dibaca pendek dan bila berada di akhir kata menjadi na yang dibaca panjang. Dalam penterjemahannya, selalu ditulis dengan huruf K (huruf k Capital atau k besar), baik di awal ayat atau di akhir ayat. Penyebutan ini bukan untuk perendahan diri, tetapi memberi makna segala sesuatu yang difirmankan itu merupakan ketetapan yang menyertakan obyek firman Nya atau melalui Malaikat utusan Nya; misalnya dalam QS Al Baqarah (2):2-3,
ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣﴾
Makna ayat ini, (2) Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dalam ayat ini terdapat lafadz rizki yang Kami anugerahkan, maknanya, rizki yang diberikan kepada umat Nya bukan secara tiba-tiba datang dari langit atau muncul dari dalam tanah. Melainkan, penggunaan lafadz Kami, mengisyaratkan, setiap rizki harus diraih oleh si penerima dengan usaha. Ayam, mendapat makanannya setelah berpencar ke seantero tanah; begitu juga tanaman bisa mendapatkan pasokan air dengan cara memanjangkan akar-akarnya ke dalam tanah; begitu juga manusia, bisa meraih rizki jika berusaha.Contoh lain, terdapat dalam QS Al Baqarah (2):23 dengan firman Nya, yang artinya  Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Penggunaan lafadz Kami dalam ayat ini menegaskan, Allah س  menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad Rasulullah ص  melalui Malaikat Jibril as, bukan dengan cara berdialog atau diberikan langsung; lalu dalam QS Al Mu’minun (23):18 terdapat firman Nya,
وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّا عَلَى ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ ﴿١٨﴾
Arti ayat ini, Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya; makna lafadz Kami pada ayat ini, mengandung penegasan, Allah س tidak turun ke bumi untuk mengatur air, akan tetapi air itu berproses sesuai dengan سُنَّةُ اللَّهِ (sunnatullah artinya mengikuti ketentuan Nya). Terdapat penterjemahan kami yang ditulis dengan huruf k (huruf k Undercas atau k kecil), memberi makna perendahan diri Nabi/Rasul atau sesuatu golongan; misalnya dalam QS Al Fatikhah (1):5, Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”;  nampak para taklim mengangguk-angguk.
Lalu diteruskan, “Dalam Al Quran telah dibukukan wahyu yang diturunkan secara langsung kapda Nabi/Rasul, yaitu wahyu yang disampaikan kepada Nabi/Rasul Musa ع. Dalam firman ini digunakan sebutan Aku yang dalam penterjemahannya selalu menggunakan huruf A Capital; antara lain firman Nya dalam QS Al A`raf (7):144,
قَالَ يَا مُوسَى إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالاَتِي وَبِكَلاَمِي فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ ﴿١٤٤﴾
Makna ayat ini, Allah berfirman: "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah Ku dan untuk berbicara langsung dengan Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur". Penggunaan sebutan Aku tersebut memberi penegasan bagi makhluk, bahwa Allah س  sebagai satu-satunya Dzat yang diakui keberadaannya dan mutlak untuk dipatuhi perintah Nya. Sebutan lain yang mengandung penegasan ini adalah Allah, Engkau, Dia, Nya, Ku, Mu. Misalnya dalam QS Al Fatikhah (1):1, dengan nama Allah ..dst; pada ayat 5, hanya kepada Engkaulah ..dst; dalam QS Al Baqarah (2):20, … niscaya Dia…dst; dalam QS Al Baqarah (2):28 terdapat lafadz kemudian kepada Nya …dst; dalam QS Al Baqarah (2):30, … sesungguhnya Akudst; dalam QS Al Baqarah (2):31, … sebutkanlah kepada Ku ...dst; dalam QS Al A`raf (7):126, … berserah diri kepada Mu….dst. Penulisan dalam penterjemahan ke berbagai bahasa, menggunakan huruf besar (Capital) pada huruf pertama; sedangkan dalam Bahasa Al Quran tidak dikenal huruf besar dan atau huruf kecil”; berhenti sejenak.
Kemudian diteruskan, “Sebutan lainnya, adalah Tuhan yang selalu ditulis menggunakan huruf besar pada awal kata; misalnya dalam QS Al Fatikhah (1):2, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam; dalam QS Al Baqarah (2):5, ... petunjuk dari Tuhan mereka …dst; dalam QS An Naml (27):26,  Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai `Arsy yang besar. Makna Tuhan dalam ayat-ayat ini memberi penegasan, Allah س adalah Tuhan dari segala sesuatu yang dipertuhankan manusia. Penegasan ini untuk menidakkan pemikiran manusia pada masa dahulu, kini dan masa mendatang, yang percaya ada tuhan selain Dia yang disembah. Dalam penterjemahan Al Quran, jika ada sebutan tuhan yang ditulis dengan huruf t (huruf t Undercas atau t kecil), adalah untuk menyebut tuhan yang dipertuhankan manusia selain Allah س. Misalnya dalam QS Al An`am (6):56 terdapat firman, ….Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan …dst; dalam QS Al Isra’ (17):42, Katakanlah; Jikalau ada tuhan-tuhan di samping Nya, sebagaimana yang mereka katakan, ..dst; dalam QS Yasin (36):23, Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain Nya, …dst; dalam QS Al Furqan (25):3, Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, …dst”.
Seusai memberi penjelasan ini, Bahjedun menutup tausiah, disertai ucapaan hamdalah dan doa diakhiri ucapan salam; para taklim pun menjawab lirih, sesudah itu bak hilang ditelan kegelapan malam.

Thursday, 24 February 2011

003. DIA MAHA ESA


Meski semula Malaikat menolak penciptaan manusia, tapi mereka tidak bertuhan kepada yang lain; satu bukti Dia Maha Esa

Malam dihias gemintang; meski begitu disana-sini mendung tipis berarak di langit, mengiring langkah para taklim menuju ke tempat tausiah. Seusai para taklim duduk melingkar, Bahjedun menyusul, duduk di deretan depan, menghadap lingkaran; lalu segera saja Bahjedun membuka tausiah, ketika diucapkannya salam pembuka; hampir serentak terdengar lirih ucapan balasan salam dari para jemaah.
Belum lagi Bahjedun melanjutkan tausiahnya, nampak seorang taklim ingin bertanya; setelah disilahkan, katanya, “Pak Ustadz, mohon maaf, bagaimana kita meyakini, bahwa Allah س  adalah Maha Esa?”; tak lama kemudian Bahjedun mulai bicara.
“Jemaah taklim yang Insya Allah selalu ditambahkan nikmat Nya”; begitu kata pembukanya; lalu diteruskan “Untuk menjawab pertanyaan itu, marilah kita menelusuri kembali kisah penciptaan manusia pertama, antara lain terdapat dalam QS Al Baqarah (2):30,
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ﴿٣٠﴾
Melalui ayat ini, antara lain terdapat firman Nya, Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". Ucapan para Malaikat ini merupakan ketidaksetujuan atas rencana penciptaan manusia yang difirmankan di awal ayat; sekaligus dapat menjadi pertanda, sesungguhnya Allah س satu-satunya Dzat; bila ada tuhan selain Dia, tentulah para Malaikat memboikot rencana penciptaan manusia yang tidak disetujuinya dan bersembah kepada tuhan yang lain”; berhenti sejenak, terlihat para taklim seolah baru tersadar makna ayat itu. Lalu diteruskan, “Hal seperti ini juga dapat dicermati mengenai perintah kepada Adam ع untuk tinggal di surga disertai dengan satu larangan; misalnya dalam QS Al A’raf (7):19 terdapat firman Nya,
وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلاَ مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَـذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ ﴿١٩﴾
Makna ayat ini, (Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, (jika kamu makan) lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang dzalim". Perintah inipun tidak dibantah oleh Adam ع. Sama seperti halnya yang dilakukan para Malaikat, seandainya ada tuhan yang lain, tentulah beliau memiliki pilihan bertuhan kepada selain Allah س”; berhenti sesaat; diluar sana terdengar guruh bertasbih yang oleh manusia dijadikan pertanda akan turunnya hujan.
Lalu diteruskan, “Pengakuan bahwa Allah  س adalah Maha Esa, juga pernah dijadikan wasiat; misalnya diwahyukan kepada Nabi Muhammad Rasulullah ص yang dibukukan dalam QS Al Baqarah (2):132-133,
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ﴿١٣٢﴾ أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ﴿١٣٣﴾
Makna ayat ini, (132) Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yaqub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam" .(133) Adakah kamu (wahai Muhammad) hadir ketika Yaqub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia (Yaqub) berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Anak-anaknya menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada Nya". Dalam ayat ini dijelaskan, Nabi Ibrahim as dan Nabi Yakub ع  dan anak-anaknya mengimani, Allah س  adalah Maha Esa”; berhenti sesaat, diminumnya kopi yang telah tersaji sejak awal. Di luar sana, malam makin merambah; suara guruh ikut menghias keheningan malam mengiringi mendung yang makin menggelayut.
Lalu diteruskannya, “Jamaah taklim yang Insya Allah dimudahkan menyerap Ilmu Nya; pada masa kenabian Nabi Muhammad Rasulullah ص, Kaum Yahudi bertanya tentang Tuhan. Kisah ini, antara lain terdapat, dalam HR At Tirmidzi, Al Hakim dan Ibnu Khuzaimah dari Abi Aliyah dari Ubay bin Ka'ab dan HR Ath Thabarani dan Ibnu Jarir dari Jabir bin Abdillah عنهُم; dikisahkan, Kaum Yahudi diantaranya Ka'bubnul `Asyraf dan Hay bin Akhtab menghadap Nabi ص. Kaum Yahudi berkata: "Hai Muhammad, lukiskan sifat-sifat Tuhan yang mengutusmu"; atas pertanyaan ini, Allah س  menurunkan wahyu yang dibukukan dalam QS Al Ikhlash (112):1-4,
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤﴾
Makna ayat ini, (1) Katakanlah: "Dia lah Allah, Yang Maha Esa, (2) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada Nya segala sesuatu. (3) Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, (4) dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia". Surah ini disebut Al Ikhlash, maksudnya pemurnian kembali akidah sifat keesaan Nya. Dengan sangat gamblang ditegaskan, Allah س  adalah Maha Esa, ditandai dengan tidak beranak, tidak punya ayah-ibu dan tiada tandingan atau sekutu bagi Nya”; berhenti sejenak.
Ketika Bahjedun berhenti bicara, jam di dinding sudah berlalu satu jam sejak tausiah dimulai; karena itu Bahjedun bergegas menutup tausiah malam ini, disertai ucapan hamdalah dan sedikit doa diakhiri dengan ucapan salam; para taklim pun menjawab lirih. Sambil berbicara satu sama lain, para taklim bersegera ntuk pulang, menembus malam yang berselimutkan dingin.

Monday, 21 February 2011

002. DIA ADALAH DZAT


Dia, adalah Allah س, yaitu Dzat,  Pencipta langit, bumi dan segala isinya, lalu bersemayam di atas Arsy, mengatur segala urusan

Tidak seperti biasanya, kini, malam diiring hujan rintik-rintik; meski begitu tak menghalangi para taklim menuju ke tempat tausiah. Setelah berkumpul melingkar, segera saja Bahjedun membuka tausiah; usai mengucapkan salam pembuka, terdengar lirih balasan salam dengan suara hampir serempak.
 “Jemaah taklim yang Insya Allah selalu ditambahkan barokah Nya”; begitu ucapan pembukanya; “Untuk menopang keseharian, marilah selalu meneguhkan keimanan, bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah س;  lalu siapa Dia?”; tanpa menunggu jawaban, lalu diteruskannya, “Sesungguhnya Dia adalah Dzat, yang difirmankan dalam QS Yunus (10):3,
إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأَمْرَ مَا مِن شَفِيعٍ إِلاَّ مِن بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ ﴿٣﴾
Makna ayat ini, “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafaat kecuali sesudah ada izin Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” Dalam ayat ini terdapat penegasan, sesungguhnya Allah س adalah Dzat; makna Dzat adalah sesuatu Yang Maha Ada, tetapi Maha Tidak Terlihat oleh mata setiap makhluk Nya. Bisa juga kita mencermati HR Muslim dari Tsauban rhu yang mengisahkan: “Rasulullah ص jika telah selesai sholat, beristighfar kepada Allah س  sebanyak tiga kali lalu diakhiri dengan bacaan:
اللَّهُمّ ٬ مِنكَ سَّلاَمِ وَ سَّلاَمَة وَ بَراَكَت ٬  يَا رَبِّ  ٬ عِندَكَ لمَلَكُوتَ وَ الْعِزَّةُ
Kemudian doa ini diterjemahkan dengan, “Ya Allah, Engkaulah keselamatan dan dari Mu jualah segala keselamatan. Maha Berkah Engkau wahai Dzat yang memiliki segala keagungan dan kemuliaan”; berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Dari kedua rujukan ini, gamblang sudah, sesungguhnya Allah س  adalah Dzat, yaitu Ada, Wujud Nya tak terjangkau nalar makhluk Nya dan dapat diketahui dengan keyakinan berdasarkan keberadaan tanda-tanda Kekuasaan Nya”.
Angin semilir malam berhembus perlahan, membawa dingin yang seolah menusuk rusuk para jemaah; disalah satu jajaran jemaah, ada yang mengacungkan tangan, dan Bahjedun mengangguk. Jemaah menanyakan, “Jika  Allah س sebagai Pencipta langit dan bumi serta mengurus dan mengendalikannya, maka Dia memiliki sifat-sifat yang tiada tandingan; lalu bagaimana Dzat Nya; ?” Setelah membetulkan silanya, Bahjedun mengemukakan, “marilah mencermati QS Al Hadid (57):3; difirmankan,
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٣﴾
Makna ayat ini, Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Dzahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dalam ayat ini terdapat penegasan, Dia adalah Dzat yang semakin sulit makhluk membayangkan Wujud Nya; karena tiada satupun yang mengawali sebelum keberadaan Nya, dan tiada yang paling akhir selain Dia. Sementara itu, yang kita ketahui, ada kelahiran sebagai awal dan ada kematian lalu ada akhirat sebagai akhir bagi setiap mahkluk Nya; sedangkan Dia tidak ada awal dan tiada akhir. Penegasan lainnya, misalnya dalam QS Al Hijr (15):86-87 difirmankan,
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْخَلاَّقُ الْعَلِيمُ ﴿٨٦﴾ وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعاً مِّنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ ﴿٨٧﴾
Makna ayat ini, (86) Sesungguhnya Tuhanmu, Dia lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.  (87) Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung. Melalui ayat ini, Dia menegaskan, Dia adalah Maha Pencipta dan Maha Mengetahui; artinya, tiada sesuatu yang lainpun yang bisa mencipta sebagaimana hasil ciptaan Nya. Kemudian terdapat lafadz tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang, maksudnya adalah wahyu Nya yang dibukukan menjadi Surah Al Fatikhah, sebagai Pembuka Al Quran”; Bahjedun terhenti, karena ada taklim yang ingin bertanya; setelah diiyakan, katanya, “Pak Ustadz, kenapa dalam Al Quran sering terdapat firman Nya yang menyebut diri Nya dengan Kami?”
Sedikit terperanjat Bahjedun bercampur bangga atas pertanyaan yang mungkin tak terpikirkan; lalu dikemukakan, “Memang betul dalam firman Nya, beberapa kali Allah  س membahasakan dengan sebutan Kami; jawaban atas pertanyaan ini, Insya Allah, kita bahas dalam tausiah yang akan datang; karena tak terasa, waktu sejam sudah berlalu”; Bahjedun pun bergegas menutup tausiah malam ini; lalu diucapkan hamdalah dan sedikit doa diakhiri dengan ucapan salam; para taklim pun menjawab lirih, sesudah itu bersegara menuju ke beranda, mencari alas kaki dan bersiap pulang di kegelapan malam.

Friday, 18 February 2011

001. MENCARI TUHAN


Manusia, selalu memiliki kecenderungan mempertuhankan sesuatu yang memiliki kekuatan melebihi dirinya

Dinginnya malam menghiasi perjalanan malam Jumat di Permukiman Pondok Kelapa bersinarkan lampu listrik, menunggu tausiah Bahjedun, dalam pembukaan perdana Pengajian Tausiah Tali Asih; yang didalamnya terkandung makna saling asah, asih dan asuh atau berkekeluargaan dan saling menyayangi sebagai sesama mukmin.
 “Para taklim yang Insya Allah selalu ditambahkan karunia Nya”; begitu Bahjedun membuka tausiah; “Keadaan yang paling sering mendorong manusia berkomunikasi dengan Tuhan, ketika menghadapi keadaan darurat; lihat saja, seorang ibu yang anaknya ikut menumpang kendaraan yang mengalami kecelakaan, tak henti-hentinya memohon, agar anaknya selamat. Begitu juga, ketika pesawat terbang yang ditumpangi menerjang awan Comulus sehingga terjadi goncangan, maka tak sebuah mulutpun yang tidak komat-kamit, memohon keselamatan; entah tuhan yang mana ”; berhenti sebentar, sementara para taklim saling berbisik, saling bercerita membenarkan pembicaraan Bahjedun.
Lalu diteruskan, “Ketika Nabi Ibrahim ع mencela pamannya, Azar, yang menyembah berhala, beliaupun mencari satu kekuatan yang dianggap dapat menjadi penolong hidupnya. Sikap beliau terhadap berhala, disebabkan tidak berfungsinya berhala sebagai penolong. Lalu dalam QS Al An`am (6):76, berisi firman Nya,
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَباً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ ﴿٧٦﴾
Makna ayat ini, Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam". Firman yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Rasulullah ص  ini mengisahkan ketika Nabi Ibrahim ع berusaha mencari tuhan sebagai penolong hidupnya. Keyakinan akan bintang sebagai tuhannya luntur, ketika bintang itu tenggelam; lalu pada ayat-ayat berikutnya dikisahkan, Nabi Ibrahim ع ingin menuhankan rembulan, matahari; tetapi karena semua itu hilang dari pandangan matanya, maka beliaupun lalu berlepas dari dari penuhanan atas benda-benda itu”; terhenti bicara, karena ada taklim yang ingin bertanya; setelah diiyakan, lalu katanya, “Pak Ustadz, apakah seorang Nabi, seperti Nabi Ibrahim ع  itu semula tidak beriman kepada Allah س ?”.
Atas pertanyaan ini, Bahjedun mengemukakan, “Ketika beliau mencari tuhan, belum ditetapkan sebagai Nabi/Rasul; atas dasar pencarian tuhan inilah, lalu muncul dalam pikirannya, tentu ada pencipta dari semua benda-benda yang mengagumkan itu. Kisah ini dapat ditelusuri lebih lanjut dalam QS Al An`am (6):79 yang memuat firman Nya,
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفاً وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿٧٩﴾
Makna ayat ini, Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Pada ayat inilah, terdapat penegasan, beliau mencari Tuhan yang mencipta langit dan bumi, tentu dengan segala isinya; dan sejak inilah beliau ditetapkan menjadi Nabi/Rasul”; berhenti sejenak.
Lalu diteruskan, “Kisah pencarian sesuatu yang dianggap melebihi kekuatan dirinya dan dapat mempengaruhi jalan hidup, terjadi sampai masa kini. Kita perhatikan, ada yang melakukan upacara sedekah laut, karena laut dianggap memiliki kekuatan yang menentukan rizkinya; lalu ada sedekah kepada Dewi Sri; ada sedekah bumi, dan banyak upacara lainnya. Sekalipun begitu, masih banyak kaum muslim yang bersyahadat dan menunaikan Rukun Islam, sekalipun mungkin tidak lengkap, tetapi masih tetap mempertahankan penuhanan selain kepada Allah س; misalnya menuhankan makam yang dikeramatkan, keris pusaka, jimat, yang semuanya itu dianggap menjadi penolong terdekat dalam hidupnya”.
“Kisah Nabi Ibrahim ع itu, bukan terjadi dalam satu, dua hari atau seminggu atau sebulan, melainkan bertahun-tahun lamanya. Alhamdulillah, atas hidayah Nya jua, beliau kembali kepada pemikiran, ada pencipta atas semua benda itu; sedangkan sebagian kaum muslim di negeri kita, belum menyadari kesalahan itu, dan mengangggap upacara seperti itu sebagai ritual budaya yang harus dilestarikan. Dalam pandanganku, budaya patut dilestarikan tetapi jangan melestarikan penuhanan selain kepada Allah س. Kesadaran Nabi Ibrahim ع  akan adanya pencipta dari semua benda yang dahulu pernah dipertuhankan, dapat dicermati dalam QS Al An`am (6):80, berisi firman Nya,
وَحَآجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَن يَشَاءَ رَبِّي شَيْئاً وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْماً أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ ﴿٨٠﴾
Makna ayat ini, Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? Ayat ini, selain berisi penegasan tiada tuhan selain Allah س, juga berisi dakwah beliau sebagai Rasul Allah untuk mengajak kaumnya melepaskan diri dari api yang pada saat itu dipertuhankan kaumnya”; ketika berhenti bicara, ada yang bertanya, “Pak Ustadz, bagaimana wujud Tuhan dalam Islam?”
Ketika dilihatnya jam yang melingkar di tangannya memberi isyarat sudah satu jam lamanya ia bertausiah, lalu dikatakan, “Para taklim yang Insya Allah selalu ditinggikan derajatnya; pertanyaan itu, dapat kita bahas pada tausiah mendatang”; lalu Bahjedun menutup tausiah malam ini, disertai lafadz hamdalah dan diakhiri doa dan ucapan salam; para taklim pun menjawab lirih. Sambil berbicara satu sama lain, para taklim bersegara meninggalkan tempat tausiah di malam yang berhiaskan hujan rintik.